Yup.
Memang terdengar seperti sebuah acara nostalgia (macam tembang kenangan) yang ditayangkan di Metro TV, tapi gw ga ingin membahas tentang acara itu kok. Gw merasa kalau gw tidak terlalu pandai menuliskan resensi dan referensi…
Tapi gw memang senang era 80an, bukan karena gw lahir di tahun 80an (justru itu kan membuat gw seharusnya menjadi anak 90an karena gw tumbuh remaja di tahun itu kan?) tapi karena gw menyukai lagu-lagu, film, bahkan sampai lawak tahun 80an.
Bukan hal baru lagi di kantor gw kalau orang-orang mendengar gw dengan begitu lancarnya membicarakan 2D (Dedi Dhukun dan Dian Pramana Putera), Muclas Ade Putra (dan perbedaannya dengan Ade Putra), rano Karno dan Ria Irawan, Jamal Mirdad, Hetty Koes Endang, Endang S taurina (dan adiknya yang bernama Ratih Purwasih), Obie Mesakh, tommy J Pissa, Pance Pondaag, Andi Meriam Matalata, Rafika Duri, and lots all.
Belum lagi membahas video klip Broery Marantika yang nyanyi ditelp atau Dina Mariana yang nyanyi sambil nyisir…
Semua pasti akan bilang, “loe itu lahir kapan sih mil? Kita aja yang lebih tua dari loe ga kenal sama yang begituan”
Buat gw, karya tahun 80an tuh original banget. Yang melo bisa melo banget, yang konyol abis-abisan banget konyolnya, seru, colorful!
Dulu, gw punya kaset-kaset lawak. Mostly sih Jayakarta Group (Jojon, Cahyono, Uuk, Ester), Bagito (Didin, Miing, Unang), Pelita Group (Ron ron, daus, kholiq), Tom Tam (Ogut, Komar, Kimung dan firman), dan d bodors (Abah Us Us, Kusye dan Yan Asmi). Dan beneran d, sampe sekarang pun gw masih inget gimana lucunya lawakan mereka.
Seperti yang masih sering diulang sampe sekarang
“gimana caranya masukin gajah ke dalam kulkas?”
“gimana? Ya ga bisa dong, gajah kan gede, kulkas kecil.”
“gampang, tinggal buka pintunya, masukin gajahnya. Selesai deh”
“oke, trus gimana caranya masukin jerapah ke dalam kulkas”
“gampang! Buka pintunya masukin jerapahnya!”
“Salah, yang bener, buka pintunya, keluarin gajahnya trus masukin jerapahnya”
“terus gimana caranya masukin tikus ke dalam kulkas?”
“Buka pintunya, keluarin jerapahnya, masukin tikusnya”
“Salah! Tikus kan kecil, sempilin aja!”
*dueng
Gw ga bilang kalau musisi sekarang ga keren, gw juga ga bilang kalau pelawak sekarang ga lucu (walau memang belum ada yang bisa bikin gw ketawa sampe mules banget) dan film sekarang ga bagus (walau siapa sih yang bisa bilang kalau catatan si boy itu ga fenomenal?) tapi memang tahun 80an penuh dengan ide original yang masih Indonesia. Ga sok pengen jadi kebarat-baratan, ga sok pengen musik britis atau pop berat yang akhirnya malu buat nge dangdut atau melo sekalian.
Gw merasa kalau saat itu karya seni bisa tampil apa adanya. Jujur. walau sekarang terlihat lucu dan tolol, kita juga pasti sangat menikmati lagunya om broery atau Tommy J Pisa. Seneng banget nonton film Warkop, Catatan si Boy atau Pengantin Remaja 9ini aja gw belum ngomongin “sinetron” ala TVRI seperti ACI, Rumah Masa Depan, jendela Rumah Kita…)
Tapi kadang gw mikir, apa iya gw suka produk seni tahun 80an itu karena gw masih jujur ya saat itu? Masih bisa menerima segala sesuatu tanpa ekspektasi harus keren, harus global, harus bisa diterima dunia luar, harus ga bikin malu. Disaat itu, orang masih bangga sekali sebagai bangsa Indonesia dan ga ingin menjadi seperti bangsa lain…
Apa karena kita ingin menjadi warga dunia, kita jadi melepas karakteristik kita sebagai bangsa? Bikin musik jadi mirip sama musiknya LA atau London. Bikin film kok jadi kaya’ Holly wood dan Bollywood, bikin buku aja bahasanya harus menegaskan dia sudah tinggal di luar Indonesia sekian lama
Padahal untuk jadi warga dunia bukan berarti kita harus melupakan karakteristik bangsa sendiri kan?
Ih ih ih gw ga boleh dibiarin nulis kelamaan nih, suka meracaw.