seorang gadis berdiri menatap cermin di sudut kamar
menatap jauh ke dalam cermin yang pantulkan bayangan
diam
teringat saat dulu ia menghabiskan bermalam-malam memandang cermin dalam diam
mencoba melihat lebih dari yang dapat tertangkap pandang
sang gadis mencoba melihat hatinya, dan lalu berteriak lirih dalam hatinya
“ah ya Tuhan kenapa itu sulit sekali rasanya?!”
sebenarnya dia hanya sangat ingin melihat cinta.
waktu berjalan menghapus jelaga.
ia masih saja berharap melihat cinta
ia merasakannya. sungguh. terasa sekali di dalam dada
tapi ia tak bisa percaya, karena ia seperti orang yang dilatih hanya untuk percaya apa yang bisa ditangkap mata
ia tak percaya kata hati. ia tak percaya ketulusan rasa dan kata
ia hanya percaya apa yang ia lihat
bahkan dengan bodohnya ia melupakan apa yang diyakininya selama ini
“sesuatu yang terlihat belum tentu ada, dan sesuatu yang ada belum tentu terlihat“
cinta cinta cinta
sungguh ia merasakannya di dada
seperti mahluk kecil yang melompat tinggi dan kencang
kadang mahluk itu menyakiti dada…membuat dia merasa sesak dan merana
seringnya mahluk itu berubah menjadi kupu-kupu di perutnya
menari.. geli rasanya
mahluk bernama cinta membuatnya bahagia dan merasakan duka berganti ganti
setiap hari
mengiringinya dewasa
dan seiring hari yang semakin berganti
ia berdebar di sisi orang yang dia sebut cinta
ia bahkan sering terdiam dan kehabisan kata-kata
hatinya melambung saat sang kekasih bicara cinta dan kesetiaan
ia terluka saat cemburu datang atas nama cinta dan kesetiaan
sang gadis menatap dalam cermin di hadapannya
tertawa kecil mengingat jauh ke belakang… saat dia pernah meminta,
“cinta cinta cinta tunjukkan dirimu dan buat aku percaya”
sudah sejak lama, sang gadis berhenti mencari dibalik cermin yang hanya pantulkan ketakutannya sendiri. berhenti membawa ketakutan di pundaknya. melawan bayangan kelamnya..
sang gadis menangis menatap cermin di sudut kamar
air mata menetes pelan di pipinya seiring senyuman terhias di wajahnya
bukan karena cinta tak ada. bukan karena ia tak dicintai siapa-siapa
bukan pula karena dia masih tak bisa melihat cinta
tatapan kebahagiaan bagai semburat senyuman
pantulan di cermin besar hadirkan sosoknya dan lelaki yang memeluknya dengan kehangatan.
dia sudah melihat yang tercinta di sampingnya
dia tak ingin lagi melihat cinta
dia melihat yang tercinta dan cinta yang dia ingin lihat sudah tergambar nyata
dia memang hanya perlu percaya.