“hey, kamu.” Bisik bintang yang begitu berani turun dari langit menghampiri perempuan bertubuh mungil yang tidur terlentang di atas atap rumah yang dingin.
Perempuan itu tak mau membuka matanya, “Siapa yang mungkin memanggilku di tempat ini semalam ini? Pasti ini hanya aku mulai mendengar suara-suara lagi…”
“Hey, kamu. Memangnya boleh perempuan tidur di atas atap malam-malam begini?! Untung tidak habis hujan. Angin biasanya lebih jahat kalau habis hujan. “ Bintang bersuara lebih keras sekarang, cukup keras untuk membuat sang perempuan membuka matanya dan menatap pancaran sinar di hadapannya.
“Kamu? Apa?” Tanya sang perempuan.
Bintang tertawa, “Bukannya selama ini kamu menyukai aku yang kamu bilang selalu setia di konstelasi yang sama bahkan mampu jadi penunjuk jalan bagi pengembara untuk pulang? Tapi kenapa kamu bahkan tak tahu apa aku.”
“Kamu? Bintang?”
Bintang mengangguk, perempuan melihatnya seperti cahaya yang turun naik.
“Lalu buat apa kamu kemari? Bukankah kamu harusnya ada di atas sana dan jadi pembicaraan dan kekaguman banyak orang?”
“Kamu membuat aku ingin turun. Aku melihatmu menangis. Air matamu menetes. Tapi kamu tidak mengatakan apapun dalam tangisanmu. Biasanya, saat manusia menangis, dia akan mengucapkan banyak doa atau bahkan kemarahan atau kekecewaannya. Tapi aku tak mendengar apa-apa. Aku pikir aku mulai tuli, jadi ya sudah. Aku turun kesini.”
Perempuan menatap bintang sesaat lalu bangkit, duduk, dan menatap kosong ke depan. “Aku hanya ingin meneteskan air mata, mau menangis saja. Bukan mau memaki atau marah-marah sendiri.”
“Kenapa kamu menangis?” bintang bertanya tanpa berusaha menatap mata sang perempuan.
“Karena aku merasa sesak.” Jawab sang perempuan singkat. “Kenapa sesak? Apa yang membuat kamu sesak? Apa kamu akan lebih baik kalau kamu menangis? Kamu ga akan sesak lagi?” bintang bertanya lagi dan lagi.
Perempuan mungil bermata teduh itu menjawab sambil tertawa kecil, “Bintang bintang, bukannya kamu sering mendengar banyak pinta manusia? Bukannya sering melihat manusia menangis? Lalu kenapa masih banyak tanya juga?”
Lalu sang perempuan menghela napas pelan dan bercerita…
“Aku mencintai seorang laki-laki, bintang. Laki-laki yang luar biasa. Dengan keteduhan dalam tatap matanya, kekuatan dalam genggamannya dan kehangatan dalam pelukannya. Aku mencintainya sejak dia datang dan menyentuh sisi terdalam hatiku yang paling rapuh. Sisi yang terlalu sering menangis karena kesepian dan rasa sakit yang datang terlalu sering dan singgah terlalu lama. Aku mencintai dia dengan seluruh hatiku.”
Bintang diam, dia menyiapkan hatinya…
“Dan kemudian akupun tahu dia mencintaiku, lalu kami melebur… bukan hanya raganya, tapi juga hatinya. Bermain diantara gelombang rasa benci dan orang-orang yang tak ingin kami bahagia. Berdebat tentang banyak hal sambil kadang berteriak, kadang berkata-kata dengan terlalu banyak tanda seru dan intonasi yang tidak menentu. Kami tak pernah takut untuk berdebat lalu bertengkar, toh pada akhirnya kami hanya akan tertawa lalu berpelukan…”
Lalu sang perempuan diam. Air matanya menetes dan napasnya begitu berat. Bintang diam. Dia bahkan sudah merasa sinarnya meredup karena dia merasakan kepedihan.
“Dia udaraku, bintang. Aku bernapas melalui aliran udara yang keluar lewat lubang hidungnya. Aku berpikir lewat akalnya yang luar biasa. Dia memang merasa melalui hatiku yang lembut dan selalu hangat untuknya tapi aku tetap saja membutuhkannya dalam setiap langkah dan tatapan mata.”
“Dan malam ini kamu merasa sesak, apakah dia hilang?” bintang bertanya patah demi patah kata. Dia hati-hati sekali, hati perempuan di hadapannya lebih halus dibanding serbuk bunga yang berterbangan di musim semi. Dia tak ingin perempuan ini terluka karena kata-katanya…
Perempuan menggeleng pelan, “Tidak. Dia ada, bintang. Dia ada. Mungkin saat ini dia tak di sisi, mungkin dia tak memeluk dan menciumku malam ini. Tapi dia ada. Walau dia tak tersentuh raga, dia selalu ada di sini… “ Perempuan itu menyentuh dadanya, “Dia selalu ada dalam tiap desah napas, aliran, dan khayalan. Dia bukan cuma obsesi atau adiksi, dia bahkan lebih indah dari mimpi-mimpi…”
“Lalu kenapa kamu menangis perempuan? Kenapa kamu mengalirkan air mata dalam diam dan dalam sesak napas tak berkesudahan? Apakah dia menyakitimu? Menggores hatimu dengan kata-kata atau dengan ego manusianya? Apa yang dia lakukan hingga membuatmu berlari ke sini, menangis dan membuatku turun ke sini.”
Perempuan itu menatap bintang…
“Air mata ini adalah doa agar Tuhan menjaganya, bintang. Tak peduli kemarahan apapun yang lewat diantara aku dan dia, kata-kata yang entah bagaimana bisa terkata, keegoisan manusia yang tiba-tiba merajai hati aku dan dia… tak peduli apapun yang hadir diantara dua rasa ini… aku tetap melihatnya sebagai cinta dan pemilik hati. Aku mengingat dia malam ini, saat dia tak ada di sini. Saat dia sedang tidak memelukku untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia sibuk sekali bintang, dia sibuk sekali menjaga aku dan memikirkan ku dalam tiap detik waktunya. Aku menangis membayangkan betapa repot dan lelahnya dia. Aku mengingat setiap detik aku dan dia bersama, bintang. Membayangkan tawa, sentuhan, pelukan dan ciuman. Membayangkan kasih sayang dan kesetiaan. Aku merindukannya, Merindukan laki-laki yang kehadirannya membuat aku merasa hidup. Air mata ini adalah doa, cinta dan kerinduan. Tentu saja kamu tadi tak mendengar ratapan, kemarahan atau kesedihan. Bukan karena kamu tuli, bintang. Tapi karena aku berdoa dengan hatiku pada pemilik kehidupan…”
Bintang meredup. Dia menangis. Entah kenapa dia menangis.
“Aku tak perlu ada di sini kan, perempuan?” Tanya bintang.
Perempuan itu menggeleng dan tersenyum, “Tidak bintang, aku ingin sendiri dalam diam. Saat ini sang pemilik hati memang sedang tak di sisi, tapi aku selalu punya dia dalam khayal, rasa dan jiwa. Malam ini, aku ingin dia saja memenuhi raga…”
Bintang beranjak naik ke langit menunggu harapan manusia lain untuk dikabulkan atau hanya sekedar memberi cahaya jalan pulang. Sang perempuan kembali rebah di atas atap dan menutup mata.
“Hey bintang!!” teriak sang perempuan. Bintang berhenti sesaat lalu bertanya apa yang dia inginkan. Perempuan tertawa kecil sebelum berkata, “Kalau kamu tidak repot, sekalian kamu kembali, mampirlah di balkon kamarnya. Dia pasti sedang duduk di sana. Katakan padanya aku merindukannya dan semakin mencintainya. Bisa kan?!?”
Bintang tertawa lalu semakin menghilang, “Lain kali,” pikirnya, “Jangan pernah langsung turun saat melihat perempuan itu menangis. Dia terlalu mencintai sang lelaki dan meletakkan hidup dan mimpi di tangannya. Dia tak butuh bintang untuk mewujudkan mimpinya…”
aqu suka ceritanya..
semoga perempuan itu selalu tersenyum untuk sang lelaki ya..
terima kasih… semoga dia selalu tersenyum