Feeds:
Posts
Comments

Yah secara ga langsung ini sebuah jurnal pengakuan kali ya….

Buat yang kenal gw sebagai seorang PR di hotel atau yang bertemu gw sekali dua kali dalam pertemuan kasual (halah) mungkin akan bilang gw orangnya menyenangkan, ketawa-ketawa, manis dan enak dilihat – iya, ini gw sendiri yang bilang. Tapi buat mereka yang kerja bareng gw, temenan lebih dari hitungan 3 bulan apalagi anak, cumawi dan keluarga gw pasti akan bilang, “Mila itu… galak”

Ga bermaksud menyalahkan orang dan lagi-lagi menyeret kakek gw ke dalam tulisan ini, tapi memang dialah orang yang sangat bertanggung jawab atas pembentukan karakter ini. Dari gw kecil sampe kelas 5 SD gw tinggal sama dia dan dia itu teramat sangat tegas. Kalau belajar sama dia atau bahkan cuma ngobrol makan malam ga ada tuh acara cekikikan atau kata-kata lembut macam sedang berkebun di belakang rumah sambil main kelinci.

Ngga.

Umumnya pembicaraan akan seperti ini

Kakek: Gimana tadi di sekolah?
Gw: Baik Pa. Cuma tadi si Pak R itu masih aja bilang kalau aku ga belajar nulis pake tangan kanan aku ga boleh ujian.
Kakek: Kok bisa dia ngomong gitu?!? (nadanya lebih ke marah daripada heran ya…) terus, takut kamu? Mau papa kesana? (nadanya persis kaya’ mau nelen orang)
Gw: Ga usah Pa, masih gak apa-apa. Nanti kalau dia ngomong lagi aku kasih tahu papa.

Atau 

Kakek: Kok lemes kamu Mil, kenapa? Sakit?
Gw: Ngga kok pa, Cuma pusing sedikit.
Kakek: Kalau sakit tiduran, minta teh manis sama ma gaek (nenek gw) kalau masih sakit ke dokter.
Gw: Iya pa.

Jadi jangan berharap kata-kata, “Kenapa nak? Apa yang sakit?” trus sambil diraba dahinya. Itu tidak akan terjadi.

Tapi bukan cuma kakek tercinta aja yang begini, mamah tersayang pun sebelas tigapuluh – sebelas empatlima (bukan lagi cuma sebelas – dua belas) sifatnya sama si kakek. Pembicaraan sama mamah itu biasanya begini.

Gw: Mama, nanti hari Sabtu ke Sekolah ya, aku jadi juara umum jadi mama sama papa diundang lihat aku nerima penghargaan.
Mama: Ga pake acara naik panggung kan? Males mama kalau pake naik panggung segala.

Atau

Gw: Mamaaaaa…. Tugas akhirku udah dapet nilai!!!! Dapet A ma!!!
Mama: Oh iya (lempeng)

Nah. Jadi sekarang jangan heran kalau gw seperti ini

Atar (si anak): Mami, atar tadi matematikanya cuma dapet 70
Gw: Kok bisa?
Atar: Iya Mi, ga teliti atarnya
Gw: Ga teliti gimana? Coba mami liat (sambil buka buku). Ini bukannya ga teliti, ini namanya kamu buru-buru.
Atar: Iya mi, kan biar cepet.
Gw: Trus, angka bisa turun dari langit? Ga bisa. Hitung.

Atau

Gw: Bebeb, kamu jadi mau ganti ban mobil
Cumawi: Ngga deh, ntar aja belum terlalu urgent. Cari velg dulu kali ya
Gw: kalau ban nya ga urgent, kenapa velg nya urgent? Ini sebenernya berdasarkan apa ya? Coba dijelasin.
Cumawi: (memilih diam)

Atau

Gw: Kalau saya ngomongnya terlalu cepet kasih tahu ya
Anak trainee: Iya mba
Gw: Kamu saya ngomong ga perlu dicatet? Yakin bisa inget?
Anak trainee: (mulai gugup) iya mba, inget.
Gw: Saya akan ngomong banyak banget dan saya ga suka kalau saya disuruh ngulang cuma karena kamu lupa. Kalau setelah saya jelasin kamu ga nanya saya pikir kamu ngerti jadi kalau dua hari lagi kamu baru nanya saya pasti akan anggap kamu lupa sama apa yang saya bilang.
Anak trainee: (nelen ludah sambil gemeteran nyatet)

Gw juga bukan ibu yang senang meluk anaknya terus digusel-gusel dicium. Gw lebih seneng duduk sama dia trus nanya (dengan nada macam kakek gw) “Gimana tadi di sekolah?”. Gw juga bukan yang menyemangati dengan “Ayo dong sayang, sekolah.Kan kamu mau jadi anak pintar” ketika anak gw males sekolah tapi gw akan bilang, “Di luar sana banyak banget anak yang ga bisa sekolah. Kalau kamu ga bisa bersyukur masih bisa sekolah dan malah males, tukeran aja sama anak jalanan itu”

Duh, iya ya gw itu galak banget.

Gw sebenarnya sadar (banget) kalau gw ga sempurna juga kok. Ga sok jadi yang paling pinter atau paling bener. Dan jangan salah, gw ga pernah ada masalah harus duduk menjelaskan atau mengajari orang yang ga tahu tentang sesuatu karena gw sendiri juga berharap orang akan mau mengajari gw saat gw ga tahu.

Tapi gw memang akan sangat stress dan senewen dan akhirnya galak ketika gw ketemu orang yang ga mau tahu. Dia ga tahu, tapi pas diajarin atau dikasih tahu eh cengengesan, ga nyimak trus lupa. Atau ga tahu tapi ngeyel ketika dikasih tahu. Atau yang lebih parah, sadar kalau dia ga tahu tapi ga merasa kalau dia perlu tahu terus dia berpikir dengan dia ga tahu dia ga akan dapat tanggung jawab mengerjakan sesuatu.

Intinya gw ga suka orang lamban, pemalas dan anggap enteng sesuatu.

Tapi kata si mamah, dari kecil itu gw memang bukan anak yang se-friendly kakak gw ataupun seimut adik gw.. gw itu diam, tertutup dan galak. Ketika ada acara kumpul keluarga, syukur-syukur gw mau ikutan ngumpul di ruang tamu atau ruang keluarga dan mendengarkan keluarga gw cerita dan menggosip, seringnya gw ada di kamar, baca buku atau tidur.

Ketika nyokap gw atau kakak gw atau adik gw curhat pun, gw terlalu sering bersikap jujur dan mengungkapkan pendapat gw (berdasarkan logika gw) dan tidak bersikap mendukung. Misalnya saat adik curhat sambil nangis ditengah kebingungan mau putus sama pacarnya yang cemburuan, instead of gw nenangin atau memeluk dia yang menangis gw malah mengajukan berbagai pertanyaan seperti, “kenapa takut putus sama dia?” “Emangnya kamu yakin kalau ga ada yang lebih baik dari dia?” “kenapa harus takut ga punya cowok?” “kalau kamu putuskankamu ga mati, ntar juga dapet gantinya kalau memang sudah jodohnya”

Ga heran si mamah suka bilang, “dari semua anak mama, kamu kayaknya yang paling ga punya perasaan” – pasrah.

Di sekolah juga gitu, gw lebih senang jadi anak paling pinter di kelas tanpa peduli dengan julukan anak paling populer. Gw ga suka main dan langsung pulang saat sekolah selesai abis itu? Ya mengurung diri di kamar lagi. Jadi gw ga suka bergaul, ga suka berteman.

Makanya si mamah sempet terdiam lama ketika gw mau jadi PR di hotel dengan kekhawatiran utama adalah gw membuat tamu-tamu takut sama gw hehehe.

Beberapa anggota keluarga dan temen deket bahkan masih mengira kalau gw ini berbasa basi semata saat berhadapan dengan tamu-tamu atau anak-anak media bahkan ada yang mikir gw berkepribadian ganda (luar biasanya teman-temanku ya Tuhan) karena saat gw sampe di kantor gw menjadi orang yang jauuuuhhhhh lebih menyenangkan. Dasar.

Ditengah berbagai pernyataan tentang sifat gw ini ternyata ada satu yang menenangkan yang keluar dari sahabat gw. Dia bilang, “Loe itu baik dan sebenernya loe itu perhatian dan penyayang banget sama orang tapi memang cara loe menunjukkan itu berbeda, bukan dengan kata-kata manis dan pelukan tapi dengan muka galak dan kata-kata loe yang luar biasa itu.”

(muka putus asa)

Jadi inget satu kejadian di sebuah restoran pizza di daerah tebet tahun 2004-an.

Temen: Mil, gw sekarang ngerti kenapa gw ga punya pacar (wajah memelas)
Gw: maksud loe?!?
Temen: Iya mil. Gw ini cowok jelek. Gw gendut. Gw ga pantes punya pacar.
Gw: (sambil nunjuk2 muka dia pake garpu) gini ya, gw bisa kasih unjuk loe cowok yang jauh lebih jelek dari loe atau lebih gendut dari loe tapi punya pacar. Loe ga punya masalah sama fisik loe. Masalah loe satu, kepribadian loe. Dan itu fatal.

Sampai sekarang gw cuma bersyukur dia ga menusukkan garpu itu ke dadanya sendiri.

Ya ya , mungkin harus gw akui. Gw memang (sedikit) galak. Semoga cumawi, atar dan calon baby bisa merasakan kasih sayang yang berlimpah dibalik ke-galak-an maminya ini *senyum manis.

 

 

(panjang amat nulisnya, mil)

Banyak orang mencoba memberikan definisi kata hidup bagi mereka.

Ada yang bilang hidup itu seperti air.. mengalir.
Yang lainnya bilang hidup itu berat. Penuh dengan cobaan dan pertanyaan-pertanyaan.
Satu lagi bilang, hidup itu bagaikan perjalanan.

Ini itu. Berbeda beda sesuai jalan pikirnya.

Bagiku hidup itu seperti sebuah film. Dengan Tuhan sebagai sutradaranya dan penulis naskahnya, dan kita sebagai pemainnya. Kita boleh berimprovisasi dengan naskahnya, dan bagaikan telenovela beratus-ratus episode, kita seringnya berputar-putar sebelum sampai di akhirnya.

Bedanya, Sang penulis naskah luar biasa hebat! Dia membuat naskah yang tak mampu ditebak bahkan oleh pemain yang akalnya paling pintar sekalipun. Hingga seluruh pemain hanya bisa bermain, berimprovisasi sebaik-baiknya tanpa tahu bagaimana akhir ceritanya.

Sebagai sutradara, Dia pun luar biasa! Dia mengizinkan semua pemainnya berimprovisasi untuk mendapat akhir yang bahagia. Tidak ada titik mati dalam cerita ini. semua bisa di ubah, semua bisa diperbaiki. Tapi hanya kalau si pemain berusaha dengan sebaik-baiknya, dan hanya kalau si pemain memang sudah saatnya mendapat akhir yang bahagia.

Kamu tahu, Sang Sutradara bahkan pernah berjanji pada seluruh pemainnya bahwa dalam lakon yang mereka perankan, mereka pasti akan merasakan kebahagiaan.

Tapi berbeda dengan film buatan manusia. Karya Tuhan yang berjudul kehidupan ini nyata. Saat kita bahagia, dada kita akan terasa penuh dengan luapan rasa suka. Wajah yang bersemu merah, senyum yang terukir sempurna, mata yang berbinar ceria. Saat kita sedih, seluruh tubuh kita merasakannya. air mata yang mengalir dan membuat mata merah dan perih, rasa sesak seolah paru-paru tak cukup kuat menghisap udara yang berlimpahan di luar sana, ujung jari yang tiba-tiba bergetar dan tulang-tulang yang tiba-tiba saja melemah.

Tidak ada pemeran pengganti untuk semua rasa, semua kondisi, semua pilihan, semua tanggung jawab. Apapun yang kita pilih untuk kita perankan, improvisasi yang kita pilih untuk kita mainkan, cuma kita yang akan merasakannya. Tak boleh dilempar, tak mungkin dipindahkan.

Dan dalam film ini tak ada adegan ulang. Tidak akan ada. kesalahan lakon bisa diperbaiki. Tapi dalam scene yang lain. Bukan mengulang scene yang sama kedua kali.

Tapi tak perlu takut berlakon dalam film ini. Tak akan ada orang jahat sampai mati seperti tak ada orang yang selalu baik bagai malaikat dan peri-peri. Tak ada rasa sakit yang abadi seperti tak ada rasa bahagia yang selamanya akan dirasa diri. Semua berganti. Semua ada masanya. Semua ada waktunya.

Dan sebagai Sutradara yang sempurna, Tuhan sudah membuat satu alur yang pasti untuk tiap pemainnya. Yang tak bisa diubah, tak bisa diprotes, tak bisa ditolak. Bukan berarti berserah saja dengan jalan ceritanya karena ada banyak hal yang bisa dilakukan selain apa yang sudah Dia tetapkan.

Seperti cicak atau katak yang tak akan kelaparan walau binatang yang menjadi makanannya mampu terbang sedang mereka bahkan tak diberikan sepasang sayap oleh sang Sutradara kehidupan. Toh mereka tak protes lalu minta dibuatkan sayap, atau tiba-tiba semua katak dan cicak mati kelaparan. Manusia sebagai pemeran film yang paling sempurna dibanding yang lainnya juga tak perlu takut atau sibuk marah-marah dengan Sang Sutradara hanya karena merasa perannya tak seperti yang mereka inginkan.

Bukankah yang kita inginkan belum tentu baik untuk kita?

Kadang kita harus menanjak dengan penuh peluh, mengeluh betapa lelahnya untuk sampai di puncak. Padahal tak perlu repot mengeluh karena pada akhirnya kita akan menemukan jalan datar yang kita cari dan lalu bisa bernapas dengan senyum di wajah.

Namun kadang kita harus meluncur turun, saat melewati puncak kejayaan, saat harus melepaskan yang selama ini kita miliki. Sakit, sedih, dan membayangkan bagaimana sulitnya saat harus berjalan menanjak lagi. Tapi hey, bukankah jalanan tak akan selalu menurun?!? Akan ada yang datar dan lalu naik lagi.. dan lalu akan ada puncaknya lagi.

Ini hanya sebuah Film tentang kehidupan. Film yang pasti memiliki scene bahagia seperti dia memiliki scene duka. Ada berjuta-juta scene yang berganti-ganti setiap detiknya. Dan apapun keputusan kita si pelakon di tiap detiknya, itu akan merubah jalan cerita selanjutnya. Satu detik saja improvisasi dipilih, maka seluruh jalan cerita bisa berubah.

Takut memilih improvisasi? Takut merubah jalan cerita? Ingin diam saja supaya tak ada cerita yang berubah? Maaf, tapi film akan terus berputar…dan saat si pelakon memilih untuk jadi penakut hanya karena tak ingin jalan cerita berubah. Dia tak akan mendapatkan apapun kecuali rasa takut, kegagalan, dan jalan cerita yang berputar-putar.

Boleh untuk merasakan takut tapi tak ada alasan untuk jadi penakut.

Bagiku, hidup adalah hidup. Dengan susah senangnya, bahagia dukanya, berat ringannya. Hidup itu ya hidup, jalani saja!

“hey, kamu.” Bisik bintang yang begitu berani turun dari langit menghampiri perempuan bertubuh mungil yang tidur terlentang di atas atap rumah yang dingin.

Perempuan itu tak mau membuka matanya, “Siapa yang mungkin memanggilku di tempat ini semalam ini? Pasti ini hanya aku mulai mendengar suara-suara lagi…”

“Hey, kamu. Memangnya boleh perempuan tidur di atas atap malam-malam begini?! Untung tidak habis hujan. Angin biasanya lebih jahat kalau habis hujan. “ Bintang bersuara lebih keras sekarang, cukup keras untuk membuat sang perempuan membuka matanya dan menatap pancaran sinar di hadapannya.

“Kamu? Apa?” Tanya sang perempuan.

Bintang tertawa, “Bukannya selama ini kamu menyukai aku yang kamu bilang selalu setia di konstelasi yang sama bahkan mampu jadi penunjuk jalan bagi pengembara untuk pulang? Tapi kenapa kamu bahkan tak tahu apa aku.”

“Kamu? Bintang?”

Bintang mengangguk, perempuan melihatnya seperti cahaya yang turun naik.

“Lalu buat apa kamu kemari? Bukankah kamu harusnya ada di atas sana dan jadi pembicaraan dan kekaguman banyak orang?”

“Kamu membuat aku ingin turun. Aku melihatmu menangis. Air matamu menetes. Tapi kamu tidak mengatakan apapun dalam tangisanmu. Biasanya, saat manusia menangis, dia akan mengucapkan banyak doa atau bahkan kemarahan atau kekecewaannya. Tapi aku tak mendengar apa-apa. Aku pikir aku mulai tuli, jadi ya sudah. Aku turun kesini.”

Perempuan menatap bintang sesaat lalu bangkit, duduk, dan menatap kosong ke depan. “Aku hanya ingin meneteskan air mata, mau menangis saja. Bukan mau memaki atau marah-marah sendiri.”

“Kenapa kamu menangis?” bintang bertanya tanpa berusaha menatap mata sang perempuan.

“Karena aku merasa sesak.” Jawab sang perempuan singkat. “Kenapa sesak? Apa yang membuat kamu sesak? Apa kamu akan lebih baik kalau kamu menangis? Kamu ga akan sesak lagi?” bintang bertanya lagi dan lagi.

Perempuan mungil bermata teduh itu menjawab sambil tertawa kecil, “Bintang bintang, bukannya kamu sering mendengar banyak pinta manusia? Bukannya sering melihat manusia menangis? Lalu kenapa masih banyak tanya juga?”

Lalu sang perempuan menghela napas pelan dan bercerita…

“Aku mencintai seorang laki-laki, bintang. Laki-laki yang luar biasa. Dengan keteduhan dalam tatap matanya, kekuatan dalam genggamannya dan kehangatan dalam pelukannya. Aku mencintainya sejak dia datang dan menyentuh sisi terdalam hatiku yang paling rapuh. Sisi yang terlalu sering menangis karena kesepian dan rasa sakit yang datang terlalu sering dan singgah terlalu lama. Aku mencintai dia dengan seluruh hatiku.”

Bintang diam, dia menyiapkan hatinya…

“Dan kemudian akupun tahu dia mencintaiku, lalu kami melebur… bukan hanya raganya, tapi juga hatinya. Bermain diantara gelombang rasa benci dan orang-orang yang tak ingin kami bahagia. Berdebat tentang banyak hal sambil kadang berteriak, kadang berkata-kata dengan terlalu banyak tanda seru dan intonasi yang tidak menentu. Kami tak pernah takut untuk berdebat lalu bertengkar, toh pada akhirnya kami hanya akan tertawa lalu berpelukan…”

Lalu sang perempuan diam. Air matanya menetes dan napasnya begitu berat. Bintang diam. Dia bahkan sudah merasa sinarnya meredup karena dia merasakan kepedihan.

“Dia udaraku, bintang. Aku bernapas melalui aliran udara yang keluar lewat lubang hidungnya. Aku berpikir lewat akalnya yang luar biasa. Dia memang merasa melalui hatiku yang lembut dan selalu hangat untuknya tapi aku tetap saja membutuhkannya dalam setiap langkah dan tatapan mata.”

“Dan malam ini kamu merasa sesak, apakah dia hilang?” bintang bertanya patah demi patah kata. Dia hati-hati sekali, hati perempuan di hadapannya lebih halus dibanding serbuk bunga yang berterbangan di musim semi. Dia tak ingin perempuan ini terluka karena kata-katanya…

Perempuan menggeleng pelan, “Tidak. Dia ada, bintang. Dia ada. Mungkin saat ini dia tak di sisi, mungkin dia tak memeluk dan menciumku malam ini. Tapi dia ada. Walau dia tak tersentuh raga, dia selalu ada di sini… “ Perempuan itu menyentuh dadanya, “Dia selalu ada dalam tiap desah napas, aliran, dan khayalan. Dia bukan cuma obsesi atau adiksi, dia bahkan lebih indah dari mimpi-mimpi…”

“Lalu kenapa kamu menangis perempuan? Kenapa kamu mengalirkan air mata dalam diam dan dalam sesak napas tak berkesudahan? Apakah dia menyakitimu? Menggores hatimu dengan kata-kata atau dengan ego manusianya? Apa yang dia lakukan hingga membuatmu berlari ke sini, menangis dan membuatku turun ke sini.”

Perempuan itu menatap bintang…

“Air mata ini adalah doa agar Tuhan menjaganya, bintang. Tak peduli kemarahan apapun yang lewat diantara aku dan dia, kata-kata yang entah bagaimana bisa terkata, keegoisan manusia yang tiba-tiba merajai hati aku dan dia… tak peduli apapun yang hadir diantara dua rasa ini… aku tetap melihatnya sebagai cinta dan pemilik hati. Aku mengingat dia malam ini, saat dia tak ada di sini. Saat dia sedang tidak memelukku untuk memastikan aku baik-baik saja. Dia sibuk sekali bintang, dia sibuk sekali menjaga aku dan memikirkan ku dalam tiap detik waktunya. Aku menangis membayangkan betapa repot dan lelahnya dia. Aku mengingat setiap detik aku dan dia bersama, bintang. Membayangkan tawa, sentuhan, pelukan dan ciuman. Membayangkan kasih sayang dan kesetiaan. Aku merindukannya, Merindukan laki-laki yang kehadirannya membuat aku merasa hidup. Air mata ini adalah doa, cinta dan kerinduan. Tentu saja kamu tadi tak mendengar ratapan, kemarahan atau kesedihan. Bukan karena kamu tuli, bintang. Tapi karena aku berdoa dengan hatiku pada pemilik kehidupan…”

Bintang meredup. Dia menangis. Entah kenapa dia menangis.

“Aku tak perlu ada di sini kan, perempuan?” Tanya bintang.

Perempuan itu menggeleng dan tersenyum, “Tidak bintang, aku ingin sendiri dalam diam. Saat ini sang pemilik hati memang sedang tak di sisi, tapi aku selalu punya dia dalam khayal, rasa dan jiwa. Malam ini, aku ingin dia saja memenuhi raga…”

Bintang beranjak naik ke langit menunggu harapan manusia lain untuk dikabulkan atau hanya sekedar memberi cahaya jalan pulang. Sang perempuan kembali rebah di atas atap dan menutup mata.

“Hey bintang!!” teriak sang perempuan. Bintang berhenti sesaat lalu bertanya apa yang dia inginkan. Perempuan tertawa kecil sebelum berkata, “Kalau kamu tidak repot, sekalian kamu kembali, mampirlah di balkon kamarnya. Dia pasti sedang duduk di sana. Katakan padanya aku merindukannya dan semakin mencintainya. Bisa kan?!?”

Bintang tertawa lalu semakin menghilang, “Lain kali,” pikirnya, “Jangan pernah langsung turun saat melihat perempuan itu menangis. Dia terlalu mencintai sang lelaki dan meletakkan hidup dan mimpi di tangannya. Dia tak butuh bintang untuk mewujudkan mimpinya…”

Laki-Laki

Bidadari, aku masih saja terluka karena kamu setiap hari. Meski kini aku tahu kamu memang menyayangi aku dan memang ingin aku ada, aku selalu terluka saat menyadari kamu tak ada di dekat aku, saat aku sadar betapa jauh jarak yang ada di antara kamu dan aku. Jarak yang memisahkan kamu dari aku.

Seperti bangun dari mimpi indah hanya untuk menyadari, itu memang benar-benar hanya mimpi.

Seperti melihat bintang yang sama dengan kamu. Jarak yang jauh. Kita yang terlalu kecil. Ga bisa melakukan apa-apa. Hanya mengingat kamu dan berharap bintang itu akan menyampaikan salam aku untuk kamu.

Bidadari, aku merindukan kamu.

Bidadari

Star light. Star bright.
First star I see tonight.
Wish I may. Wish I might.
Wish I have what I wish tonight.

Dan pikiranku mengembara mencari kamu. Sosok yang masuk dan kini tinggal di dalam hati ku. Kamu yang membuat aku merasakan rindu. Merasakan sesak dalam dada. Membuat aku merasa seperti ada mahluk kecil yang meloncat-loncat dalam tubuhku. Kamu..sosok yang membuat aku jatuh cinta.

Aku memanggil kamu setiap malam. Menutup mata. Membiarkan hatiku bicara. Aku percaya kamu bisa merasakannya. Aku yakin kamu mengerti rasanya. Bukan hanya aku yang mengingatmu terus-terusan kan? Kamu juga begitu kan?

Laki – laki

Aku menitipkan salam pada bintang yang paling terang. Semoga kamu bertemu dengannya, bidadari… Ia pasti akan bercerita tentang aku dan rindu ini.

Bidadari

Aku menitipkan doaku pada bintang yang paling terang. Kalau kamu bertemu dengannya malam ini, tanyakan.. dibawa kemana rindu yang selama ini ku titipkan padanya. Karena kamu belum juga kembali ke sini dan menemani aku yang sesak karena rindu ini.

Laki – Laki

Bintang itu hilang. Aku tak melihatnya. Jaraknya terlalu jauh. Langitnya terlalu kelam.

Bidadari.

Bintang itu tak terlihat lagi. Jaraknya sangat jauh. Hilang dibalik hitamnya malam.

… tapi aku tetap saja menitipkan rinduku padanya. Karena terlihat ataupun tidak…kita punya bintang yang sama di hati kita… asalkan kita percaya

Laki-Laki

Aku merindukanmu bidadari

Bidadari

…aku sangat merindukanmu laki-laki pemilik hati. Aku rindu sekali.

Maaf

Aku tak mau mencintai kamu. Bukan tidak bisa tapi tidak mau.

Sebenarnya aku tak ingin menjelaskan apa-apa. Karena rasa bukan hal yang bisa dijelaskan dengan berjuta kata-kata. Rasa itu sunyi. Rasa itu berbisik pelan sekali. Tapi rasa yang dihati tak pernah tahu bagaimana berbohong dan mementingkan diri sendiri, ia jujur dan ia melindungi.

Dan walaupun kamu menyalahkan aku karena terlalu percaya rasa yang menurut kamu membuat aku terjebak berkali-kali. Tapi…rasa yang aku punya membuat aku masih mau tahu kalau kamu juga punya hati yang harus dihargai.

Maka aku harus punya alasan jujur kenapa bukan kamu yang aku mau di sisi.

Aku tak akan bicara soal kelebihan atau kekurangan kamu lagi. Aku tak berani bicara tentang cinta yang selalu kamu beri. Kita sama-sama tahu dan mengerti. Aku tak pernah peduli penilaian siapapun tentang kamu. Aku hanya peduli dengan apa yang aku rasakan dan aku yakini.

Aku juga tak mau lagi bicara tentang keadaan diantara kita berdua. Tentang orang-orang di sekitar kita. Tentang bagaimana mereka memandang dan bicara tentang kita. Kita sudah sama-sama tersiksa dan muak dengan apa yang mereka lakukan pada kita.

Tapi rasa ini tak bisa berbohong lagi. Aku berusaha. Aku menunggu tanda-tanda. Aku bicara pada Tuhan dengan penuh percaya dan meminta dia bicara padaku lewat rasa dan tanda. Aku benar-benar menyerahkan keputusan pada apa yang aku rasa.

Aku tidak mau mencintai kamu. Rasa dalam hatiku melarang aku untuk mencintai kamu. Bukan menghitung untung rugi. Bukan takut dengan rasa sakit atau gagal lagi.

Tidak ada debaran. Tidak ada rindu. Tidak ada kehilangan. Tidak memikirkan. Tidak merasa harus setia. Tidak takut kamu marah lalu menghilang. Tidak ingin berlari memeluk kamu saat sedih sekali. Tidak mau berbagi tawa dan kebahagiaan. Tidak merencanakan masa depan. Tidak ingin menghabiskan malam berduaan. Tidak.

Daripada aku harus membuat kamu menunggu dan berharap lebih lama. Daripada nanti kamu makin jatuh cinta. Daripada aku semakin terlihat bodoh dan plin plan. Daripada aku harus menyakiti orang yang punya cinta.

Lebih baik aku bicara sekarang juga.

Maaf. Aku tidak mau mencintai kamu.

Selalu

Entah kenapa saya bisa diam terpaku dan gemetar ketika bertemu seorang Djenar Mahesa atau Fira Basuki (jangan sebut Taufik Ismail atau alm. Rendra, saya pernah hampir kehabisan napas saat bertemu mereka saking kagum dan grogi) sementara saya bisa tertawa-tawa atau bahkan bekerja bersama dalam sebuah acara bersama penyanyi atau pemain film ternama.

Untuk saya, penulis itu teramat sangat luar biasa.

Mungkin memang kakek saya penyebab utamanya. Dia yang sejak kecil senang mengurung diri bersama saya di ruang kerja yang seluruh dindingnya tertutup oleh rak buku berisi buku-buku sastra, biografi orang-orang ternama, fiksi, non-fiksi, sejarah, agama bahkan sampai buku cara belajar bahasa German, Italia, Belanda dan juga buku bagaimana cara berternak ayam (saat itu judulnya adalah Cara Beternak Ajam).

Yang saya ingat, tidak ada satu hari terlewat buat saya tanpa membaca satu bukunya dan kakek saya memberikan akses yang luar biasa. Saat cucu yang lain begitu takut masuk ke kamar kerjanya, saya bisa dengan santainya memanjat rak, mengambil buku, lalu duduk di pojok dekat jendela dan kemudian menenggelamkan diri saya dalam tiap-tiap baris tulisan.

Semakin saya beranjak besar, selalu ada satu buku yang saya beli tiap bulan. Bukan komik, bukan cerita bergambar, bukan majalah. Tapi buku yang seluruhnya hanya berisi baris-baris tulisan dan kalaupun ada foto atau gambar hanyalah terselip di satu dua bagian untuk melengkapi informasi sejarah.

Saya lebih memilih otak saya sendiri yang menentukan sebiru apa langit yang dimaksud, seterang apa matahari yang diceritakan, di bukit setinggi apa sang lelaki berdiri dan seperti apa lelaki itu. Saya memilih untuk mendeskripsikan kata-kata itu seperti yang saya inginkan dan bukan seperti apa yang disajikan untuk mata saya. Saya memilih untuk hanya percaya apa yang saya ciptakan sendiri dalam akal dan rasa.

Sekarang saya berada dalam ruang lingkup kerja yang memungkinkan saya bertemu banyak rekan media, entah itu wartawan koran, majalah maupun media online dan media elektronik… dan mereka semua luar biasa cerdas! Senang mendengar banyak ide dari mereka mengalir dan apalagi ketika ide itu menjadi tulisan ataupun script yang dibacakan di radio ataupun digunakan dalam acara televisi.

Ini membuat saya selalu bersyukur menjalani hari demi hari. Pekerjaan ini terasa begitu menyenangkan karena mereka dan karena saya seperti diizinkan untuk selalu menikmati lagi dan lagi keindahan dan kenyamanan yang saya dapat ketika pikiran saya berenang dalam lautan kata-kata sementara tubuh saya terduduk di pojok kamar.

Saya selalu kagum dengan penulis. Ya, seperti kamu juga, yang bisa menulis bagaimana senang, sedih atau marahnya kamu hari ini di blog, diary, notes atau apapun media yang kamu pilih. Yang bisa membuat orang ikut tersenyum, tertawa atau merasakan hatinya tergerak bersama dengan aliran tulisan yang kamu buat. Yang bisa membuat orang lain merasa, “Hey, aku juga merasa begitu. Ternyata aku ga sendirian!”
Bagaimana mungkin saya bisa tidak kagum dengan penulis kalau dengan caranya merangkai setiap kata-kata dan mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan hatinya, mereka bisa membuat orang merasakan kalau dia tidak sendirian.

Jadi, ya, saya selalu kagum dengan penulis.

*amila, yang baru saja terkagum-kagum melihat tulisan seorang teman di majalah.

Gadis dan Cermin

seorang gadis berdiri menatap cermin di sudut kamar
menatap jauh ke dalam cermin yang pantulkan bayangan
diam

teringat saat dulu ia menghabiskan bermalam-malam memandang cermin dalam diam
mencoba melihat lebih dari yang dapat tertangkap pandang
sang gadis mencoba melihat hatinya, dan lalu berteriak lirih dalam hatinya
“ah ya Tuhan kenapa itu sulit sekali rasanya?!”

sebenarnya dia hanya sangat ingin melihat cinta.

waktu berjalan menghapus jelaga.
ia masih saja berharap melihat cinta
ia merasakannya. sungguh. terasa sekali di dalam dada
tapi ia tak bisa percaya, karena ia seperti orang yang dilatih hanya untuk percaya apa yang bisa ditangkap mata
ia tak percaya kata hati. ia tak percaya ketulusan rasa dan kata
ia hanya percaya apa yang ia lihat
bahkan dengan bodohnya ia melupakan apa yang diyakininya selama ini
“sesuatu yang terlihat belum tentu ada, dan sesuatu yang ada belum tentu terlihat“

cinta cinta cinta
sungguh ia merasakannya di dada
seperti mahluk kecil yang melompat tinggi dan kencang
kadang mahluk itu menyakiti dada…membuat dia merasa sesak dan merana
seringnya mahluk itu berubah menjadi kupu-kupu di perutnya
menari.. geli rasanya

mahluk bernama cinta membuatnya bahagia dan merasakan duka berganti ganti
setiap hari
mengiringinya dewasa

dan seiring hari yang semakin berganti
ia berdebar di sisi orang yang dia sebut cinta
ia bahkan sering terdiam dan kehabisan kata-kata
hatinya melambung saat sang kekasih bicara cinta dan kesetiaan
ia terluka saat cemburu datang atas nama cinta dan kesetiaan

sang gadis menatap dalam cermin di hadapannya
tertawa kecil mengingat jauh ke belakang… saat dia pernah meminta,
“cinta cinta cinta tunjukkan dirimu dan buat aku percaya”

sudah sejak lama, sang gadis berhenti mencari dibalik cermin yang hanya pantulkan ketakutannya sendiri. berhenti membawa ketakutan di pundaknya. melawan bayangan kelamnya..

sang gadis menangis menatap cermin di sudut kamar
air mata menetes pelan di pipinya seiring senyuman terhias di wajahnya
bukan karena cinta tak ada. bukan karena ia tak dicintai siapa-siapa
bukan pula karena dia masih tak bisa melihat cinta

tatapan kebahagiaan bagai semburat senyuman
pantulan di cermin besar hadirkan sosoknya dan lelaki yang memeluknya dengan kehangatan.
dia sudah melihat yang tercinta di sampingnya

dia tak ingin lagi melihat cinta
dia melihat yang tercinta dan cinta yang dia ingin lihat sudah tergambar nyata
dia memang hanya perlu percaya.